WORKSHOP PERUMUSAN SISTEM PANGAN PASCA PANDEMI COVID-19 DI KABUPATEN PACITAN

Kegiatan workshop dilaksanakan pada tanggal 24 November 2021 pukul 09.00 hingga 13.00 WIB. Workshop ini dipimpin langsung oleh Kepala Bappeda Kabupaten Pacitan, Ir. Pamuji, MP, yang didampingi oleh Kepala Dinas Pertanian dan Team dari LPTP, Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP), Jaringan Kerja Pertanian Organik Indonesia (JAKER-PO), dan Yayasan KURAWAL. Selain itu dihadiri pula perangkat daerah, perwakilan petani, perwakilan kelompok Tani – OMG (Organik Multi Guna), perwakilan organisasi tani – KTNA, perwakilan dari perguruan tinggi, media massa, LSM, serta oganisasi masyarakat (ormas).

Acara dibuka oleh Ir. Pamuji MP, Kepala Bappeda Kabupaten Pacitan. “Sistem pangan memang sangat penting untuk dikaji pasca pandemi Covid-19 karena kondisi perekonomian yg bergejolak. Terima kasih kepada LPTP yang telah memilih Kabupaten Pacitan sebagai sampling lokasi kajian untuk pertanian yang sebagian besar adalah pertanian lahan kering”, ujar Ir Pamuji, MP.

Sambutan selanjutnya disampaikan oleh Kepala Dinas Pangan yang sekaligus sebagai PLT. Kepala Dinas Pangan, Ir. Bambang Supriyoko MP. Beliau menyampaikan bahwa dari sisi Dinas Pertanian sangat berkepentingan untuk ketersediaan, dan dari sisi Dinas Pangan bahwa kondisi pangan Rumah Tangga harus tercukupi.

Tujuan dari acara ini adalah untuk menyampaikan hasil kajian sistem pangan dan rekomendasinya untuk menyusun konsep sistem pangan yang tangguh di Kabupaten Pacitan.

Paparan disampaikan oleh Sumino dari LPTP yang menguraikan hasil kajian mulai dari kondisi eksisting, permasalahan dan rekomendasi apa yang perlu diperhatikan dalam Sistem Pangan. Isu yang ada adalah besarnya alih fungsi lahan pertanian sehingga luasan lahan menurun, dan otomatis produksi padi menurun. Selain itu juga minat masyarakat di dunia pertanian sangat menurun, banyak masyarakat yang memilih merantau ke luar daerah untuk meningkatkan ekonomi dan kesejahteraan keluarga. “Terkait tata kelola lahan, juga perlu perhatian karena intervensi kurang maksimal, dan kadang investasi yang dilakukan tidak seimbang dengan produksi yang dihasilkan. Oleh karena itu diperlukan rekomendasi terkait perkuatan unsur hara ke tanah, industrialisasi pupuk organik di pedesaan,” lanjut Sumino.

Selanjutnya penjelasan disambung dari Pak Eko, menyampaikan tentang pola konsumsi masyarakat yang masih sangat tergantung beras dengan kebutuhan 275 gr/hr/kapita mendekati kebutuhan ideal sesuai Susenas.

Rekomendasi yang disampaikan di akhir pembahasan adalah bagaimana mempertahankan lahan pertanian karena dalam 5 tahun turun 26 % sehingga tren ini sangat mengkhawatirkan.

Masukan dan saran juga disampaikan oleh peserta dalam forum diskusi dan tanya jawab untuk menambah rekomendasi terhadap kajian yang dilakukan. (cik)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

one × two =